Monday, January 16, 2012

sutradara menurut Putu Wijaya

sutradaranya putu wijaya

Didalam bahasa Indonesia ada kata sutradara yang dipakai untuk menerjemahkan kata director. Kata itu diambil dari bahasa sansekerta. Dalam sejarah kebudayaan Indonesia, sutradara adlaah orang yang memilih adegan-adegan dari epos Ramayana/ mahbarata untuk dijadikan relief di dinding candi.
 
Dalam teater tradisional Indonesia, istilah penyutradaraan sebenarnya tidak dikenal. Yang dikenal adalah pelatih yang sekaligus bertindak sebagfai guru. Orang ini tidak hanya melatih ketrampilan, tetapi seringkali juga membentuk kepribadian seniman. Praktek latihan dan proses berguru tidak dilakukan dengan cara duduk didalam kelas dalam jadwal-jadwal yang pasti. 

Latihan dan proses berguru berlangsung secara perlahan dalam betnuk magang atau nyantrik. Menjadi asisten dan pembantu pribadi.
 
Kalau sebuah pertunjukan berlangsung, nampaknya pertunjukan tersebut berjalan dengan sendirinya tanpa ada pengarahan dari sutradara. Guru tidak memberitahu apa yang harus dikerjakan, tetapi dia menegur kalau ada kesalahan. Para seniman, bagaikan musisi jazz saling berinteraksi dan kemudian membentuk satu kesatuan dalam proses tanpa ada pengarahan dan rencana sebelumnya. 

Semuanya dilakukan secara bersama dalam proses.
Inti dari pertunjukan tradisional Indonesia adalah proses. Percaya pada proses. Dan terus berproses. Sehingga sebuah karya tidak pernah berhenti. Ia lahir setiap hari, setiap kali dipentaswkan kembali.segalanya menjadi baru dan actual, karena secara spiritual ada usaha untuk melakukan adaptasi, aktualisasi, interpretasi. Didalam tradisi bali dikenal: desa, kala, patra (tempat, waktu dan suasana) 3 prinsip yan gmenjdai panutan hidup orang bali dan sekaligus merupakan jiwa keseniannya. Di d`lam tradisi Jawa juga dikenal istilah, empan, papan, winiraos yang pada dasarnya berarti sama.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment